Mungkin kebanyakan orang bakal nanya, kenapa gay? Atau, kenapa kamu jadi gay? Gay, atau perasaan suka sama sesama jenis, bukan hal yang baru di tahun-tahun ini. Tapi gay ini sudah ada sejak zaman dulu, bahkan jauh berjuta-juta tahun sebelum orang kenal sama iPhone. Banyak peristiwa dalam sejarah yang menceritakan tentang gay, baik yang lokal maupun internasional. Namun yang jadi masalahnya adalah, di Indonesia tidak banyak orang yang berani mengungkapkan dirinya secara terbuka bahwa dirinya adalah gay. Banyak diantaranya yang cuma merasa cukup hanya dengan menyimpan diam-diam secara pribadi perasaannya sebagai gay, atau bahkan mengingkarinya. Menjadi gay, di negara yang tidak mengakui atau bahkan mengutuk keberadaan menjadi seorang gay, adalah suatu melo-drama yang mungkin sangat menarik dengan berbagai kisahnya. Dan kenapa gay, dalam kehidupan sehari-hari sering menjadi bahan cemoohan atau ejekan. Dan tidak sedikit juga yang jadi bahan bualan yang berakhir dengan kekerasan. Menjadi gay adalah bukan pilihan, aku menjalaninya sebagai bagian dari hidup. Tidak berusaha menutupinya ataupun mengumbarnya. Dan perasaan mengenai gay ini, tidak pernah dibuat-buat atau seperti apa. Semuanya berjalan dengan apa-adanya. Susah untuk mengungkapnya, tapi mudah untuk merasakannya. Mungkin seperti orang hetero pada umumnya, perasaan yang suka sama lawan jenis. Kita juga punya perasaan seperti itu, hanya beda dengan obyek akhirnya. Mungkin sebagian dari gay ada yang orientasinya memang agak-agak girlie, tapi gak sedikit juga yang memang kelihatan seperti orang hetero biasa. Tapi membedakan antara gay dengan pria hetero memang rada-rada tricky.
Dan menjadi gay adalah bukan sebuah keputusan, tapi lebih menjalani hidup apa adanya. Kalaupun hal itu harus terbentur dengan berbagai aspek norma-norma kehidupan, kembali kepada masing-masing pribadi yang memutuskan jalan terbaik bagi dirinya masing-masing. Dan hanya masing-masing pribadi yang tahu jawaban dari pertanyaan diatas.